Isu terorisme adalah isu yang sedang dan sudah menjadi sorotan dunia internasional saat ini, disamping adanya isu lain seperti Global Warming. Isu ini mulai menyebar setelah adanya penyerangan terhadap gedung WTC di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001. Amerika pun menjadi bengis bagaikan beruang yang telah diganggu tidurnya. Amerika pun mengumandangkan niatnya untuk memberantas terorisme. Maka Amerika memulai dengan melakukan penyerangan ke Afganistan untuk memburu Osama Bin Laden yang di tuduh sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas kejadian di Gedung WTC. Lalu meneruskan ke Iraq dengan alasan memburu Saddam Husein dengan alasan bahwa Saddam Husein adalah orang yang mengancam perdamaian dunia.

Memang secara konsep, Amerika melakukan sesuatu yang patut di ancungkan jempol. Tapi yang menjadi kontroversi yang sangat besar adalah bagaimana cara Amerika dalam menanggapi hal tersebut. Ia melakukan invasi ke negara-negara yang dicurigai dan melakukan tindakan-tindakan yang sungguh tidak berperikemanusiaan. Amerika seenaknya memborbardir Afganistan dan Iraq, membunuh wanita dan anak-anak, membunuh yang tidak bersalah, dan melakukan pelanggaran HAM lainnya. Padahal kita semua tahu bahwasanya Amerika selalu mengumbar-umbar isu HAM, terbukti dari The Declaration of Independence dan Undang-Undang PBB yang mereka rancang, namun akhirnya ia sendiri yang mencoreng itu semua.

Tindakan-tindakan tersebut tidak hanya berdampak pada negara yang masih “terjajah” pada masa modern ini, tapi juga berdampak pada stabilitas sistem politik negara-negara lainnya, tidak terkecuali di Indonesia. Negara-negara diberbagai belahan dunia melakukan protes terhadap tindakan Amerika. Mereka melakukan berbagai aksi di negara mereka, dimulai dari demo ke kedutaan Amerika, Boikot produk-produk dari Amerika dan sebagainya.

Di Indonesia, terjadi demo di berbagai daerah. Banyak tuntutan yang ada seperti melakukan tindakan boikot terhadap produk-produk Amerika dan bahkan sampai meminta untuk memutus hubungan diplomasi dengan Amerika. Tapi entah mengapa itu semua tidak dapat terealisasikan hingga saat ini.

Namun disamping itu semua, sebenarnya ada dampak besar lain yang sangat fatal akibatnya bagi indonesia, yaitu munculnya paham Terorisme. Munculnya “kaum-kaum sensitif” yang menganggap bahwa serangan di Afganistan dan Iraq itu lebih kepada niat Amerika untuk menghancurkan Islam daripada niat Amerika untuk menghancurkan atau memberantas terorisme. Kaum-kaum sensitif tadi pun mulai berulah di Indonesia dengan melakukan tindakan teror di negara mereka sendiri, Indonesia. Dan terjadilah Bom Bali I.

Memang benar, sebelum terjadinya Bom Bali I, di Indonesia pernah terjadi juga beberapa aksi teror pemboman dibeberapa tempat yang juga mengganggu stabilitas keamanan negara Indonesia dan juga pastinya mengganggu sistem politik Indonesia. Misalnya seperti pemboman yang terjadi di beberapa Gereja di Indonesia seperti Pekanbaru dan Ambon ketika perayaan Natal. Atau terjadinya pemboman di Atrium Senen (2001), pemboman di Kedutaan Thailand dan Filipina pada tahun 2000, dan aksi bom lainnya.

Namun yang menjadi fokus utama saya dalam tulisan ini adalah pemboman yang terjadi akibat tindakan yang diakibatkan oleh serangan Amerika dan antek-anteknya dalam memberantas terorisme, yaitu Bom Bali I dan aksi pemboman setelahnya. Mengapa saya mengatakan bahwasanya aksi Bom Bali I dan bom-bom setelahnya tersebut berkaitan dengan tindakan pemyerangan yang dilakukan oleh Amerika? Spekulasi ini saya utarakan, berlandaskan pada kutipan dibawah ini :

“berdasarkan niat atau target, jelas bom Bali merupakan jihad fisabilillah, karena yang jadi sasaran utamanya adalah bangsa-bangsa penjajah seperti Amerika Serikat dan sekutunya. Ini semakin jelas dengan adanya pembantaian massal terhadap umat Islam di Afganistan pada Bulan Ramadhan tahun 2001 yang disaksikan oleh hampir seluruh umat manusia di segala penjuru dunia” (di kutip dari buku Aku Melawan Teroris! Karangan Imam Samudra)

Dari pernyataan yang dibuat tersebut, jelaslah bahwasanya apa yang dilakukan Amerika, membuat munculnya suatu paham terorisme di Indonesia. Sehingga mau tidak mau Indonesia harus menanggung itu semua. Sehingga menurut Zuhairi Misrawi, dalam pengantar di buku A.M. Hendropriyono berpendapat bahwa terorisme di Indonesia ini sudah bisa diibaratkan sebagai tanaman yang tumbuh subur. Ketika satu pelaku tertangkap dan dihukum, maka muncullah yang lainnya. Ketika Dr. Azhari tertembak mati, masih ada Noordin M. Top, setelah beliau muncul lagi bibit-bibit kecil terorisme yang belakangan ini sering dibicarakan di media. Sehingga kita semua bisa mengambil kesimpulan dari itu semua bahwasanya masalah terorisme bukan masalah pelaku, tetapi lebih kepada masalah paham itu sendiri. Karena walaupun pelakunya sudah ditangkap dan ditembak mati, tapi paham terorisme tersebut masih hidup.

Meraka yang memiliki paham tersebut pun mulai mengembangkan paham mereka dengan mencari jaringan-jaringan atau lebih tepatnya wadah di dunia Internasional. Maka berlanjutlah topik pembicaraan kita ke jaringan organisasi transnasional Al-Qaeda di Afganistan. Jaringan tersebut telah diyakini sebagai jaringan yang mengembangkan faham keagamaan yang dapat melahirkan para teroris atau mereka yang mempunyai keberanian dan kepercayaan diri untuk melakukan tindakan terorisme.

Al-Qaeda diyakini bersarang di Afganistan yang dimotori oleh gerakan Taliban. Taliban adalah sekelompok orang di Afganistan yang menggunakan pemahamam Waha-bisme (sebuah paham dalam islam yang dikenal karena berada digaris keras), namun me-reka memodifikasi paham tersebut dengan pandangan mereka. Mereka menggarisbawahi para kolonialis asing, khususnya Amerika dan antek-anteknya, karena kesalahan Amerika dan sekutunya tersebut yang mengganggu stabilitas negara-negara di Timur Tengah.

Organisasi Al-Qaeda adalah suatu wadah dari kaum Fundamentalis Islam, yang bukan dalam pengertian fundamentalis agama. fundamentalisme yang melahirkan terorisme adalah suatu ideologi politik, bukan agama Islam yang secara sinis kerap dikaitkan oleh pihak Barat dengan ideologi tersebut. Jadi seyoganya pandangan-pandangan sinis yang mengakibatkan perpecahan, hendaknya segera dihapuskan. Mereka yang berpandangan bahwa Islam mengajarkan untuk melakukan tindakan teror hendaknya sadar diri, tanpa mengeluarkan spekulasi yang kadang menyakitkan.

Lalu apakah aksi teror yang terjadi tersebut mengganggu kestabilitasan Indonesia dan mengacaukan sistem politik Indonesia? Jawabannya adalah Benar. Mengapa demikian? Marilah kita telusuri satu persatu.

1. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya sistem adalah bagian dari beberapa bagian sistem atau subsistem yang melaksanakan fungsinya masing-masing dan diantara satu subsistem dengan subsistem lainnya saling berkaitan. Begitu pula dengan sistem politik Indonesia yang terdiri dari beberapa sistem yang menjalani fungsinya masing-masing. Namun ketika satu kepincangan terjadi dalam subsistem Indonesia, maka keseluruhan subsistem atau sistem tadi mengalami gangguan. Dalam kaitannya dengan masalah terorisme, kepincangan yang terjadi adalah dibidang pertahanan. Contohnya, saat terjadi pemboman di Bali yang menelan ratusan korban dari penduduk dalam dan luar negri. Walaupun kepincangan yang terjadi di bidang pertahanan, namum berdampak pada bidang-bidang lainnya. Karena terjadinya pemboman di Bali, Indonesia menghadapi permasalahan dalam bidang diplomasi, terutama dengan negara-negara yang menjadi korban dalam tindakan teror tersebut seperti Australia, Amerika, Jepang, dan negara lainnya. Setelah terjadi kepincangan di bidang diplomasi, akan berdampak pula pada bidang lainnya, seperti larangan negara Amerika dan Australia kepada warga negaranya untuk berkunjung ke Indonesia khususnya Bali saat itu, mengakibatkan berkurangnya wisatawan yang datang ke Bali sehingga juga mengurangi pemasukan negara dari bidang pariwisata. Dan Bali saat itu pun mengalami perekonomian yang sangat sulit. Karena memang sebagian besar masyarakat Bali berpenghasilan dari wisatawan-wisatawan yang berkunjung kesana. Hal yang tidak disangka juga, ternyata berdampak pula ke bidang pendidikan. Seperti, Madina University, Saudi Arabia, yang biasanya memberikan beasiswa penuh untuk penuntut ilmu yang ingin belajar disana setiap tahunnya dari Indonesia, menutup kesempatan tersebut dengan alasan terjadinya pemboman di Bali tersebut. Sehingga jelaslah yang dari awalnya terjadi kerusakan pada satu subsistem, mengakibatkan kerusakan pada sistem yang lainnya. Oleh karena ituah masalah terorisme khususnya pemboman tersebut mengganggu sistem perpolitikan di Indonesia. Ini juga sesuai dengan pendapat David Easton yang mengatakan bahwasanya ada tiga hal mendasar dari sistem politik, yang salah satunya adalah ditandai dengan adanya saling ketergantungan antarunit yang berada didalamnya.

2. Didalam sistem politik, terdapat input yang berguna untuk memberi masukan didalam sistem politik. Karena sistem politik disusun untuk memberikan kepuasan bagi masyarakat yang berada dibawahnya. Namun permasalahannya untuk Indonesia yang memiliki berbagai macam tuntutan karena latar belakang masyarakat yang sudah berbeda-beda, dan kebutuhan yang berbeda pula. Dan kadang kebutuhan tersebut tidak seluruhnya bisa dipenuhi, dan akhirnya rakyat menuntut. Namun kadang ada sikap pemerintah yang tidak menganggap serius tuntutan tersebut, hingga akhirnya ada beberapa golongan yang nekat, sehingga terjadilah tindak terorisme tersebut. Jadi kesimpulannya input dan masukan yang tidak dipenuhi serta tidak dapat perhatian khusus bisa mengakibatkan masyarakat nekat untuk melakukan tindakan teror.

Dari tulisan yang telah saya paparkan di atas, terlihatlah bahwa Terorisme itu memang bisa mengganggu sistem perpolitikan suatu negara. Dan hendaknya masing-masing negara mampu mengatur suatu sistem perpolitikan dengan apik sehingga hal-hal seperti ini tidak kita temui lagi.

Terkhusus buat Indonesia yang sebenarnya sudah sangat berpengalaman dalam mengatasi permasalahan terorisme, hendaknya sudah dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi ini semua. Karena menurut David Easton, didalam sebuah sistem politik, terdapat Input, Output, dan Lingkungan yang memengaruhinya. Input yang Indonesia dapatkan sudah terlalu banyak, permasalahannya pun sudah dilumatkan dalam beberapa pertemuan, kerjasama antarnegara yang berkaitan dengan terorisme pun telah dijalin dengan berbagai negara, dan hendaknya kebijakan-kebijakan atau output yang dikeluarkan pun sudah memuaskan seluruh kalangan. Dan Indonesia telah mampu melewati itu semua, terbukti dengan penggrebekan yang dilakukan tim antiteror yang sudah membongkar sedikit banyaknya tindakan teror di Indonesia ini. Salut buat Indonesia.

Buku Bacaan :

1. Hendropriyono, A.M. Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2009.

2. Nurdi, Herry. Lobi Zionis dan Rezim Bush : Teroris Teriak Teroris. Jakarta: Penerbit Hikmah, 2006.

3. Pribadi, Toto, dkk. Sistem Politik Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka, 2009.


A.M. Hendropriyono, Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009), h. 3

A.M. Hendropriyono, Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam , h. 15

Toto Pribadi, dkk, Sistem Politik Indonesia (Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka, 2009), h.1.3

http://politik.kompasiana.com/2010/04/03/pengaruh-terorisme-terhadap-sistem-politik-indonesia/

Iklan